Kalsel Menuju Penyangga Pangan Nasional

 

        SEKTOR pertanian, lebih khusus lagi pertanian tanaman pangan adalah sumber energi pertama bagi kehidupan manusia. Karena melimpahnya hasil bumi inilah bangsa Indonesia mengalami pahitnya penderitaan masa penjajahan karena dijarah oleh bangsa asing, bukan disebabkan adanya tambang mineral atau minyak bumi. Disadari atau tidak masalah pangan tidak hanya sekedar pemenuhan produksi pertanian saja, tetapi disitu terdapat kedaulatan politik suatu negara, menyangkut ketahanan nasional suatu negara. Kekuatan ekonomi, kesehatan dan penanggulangan kemiskinan suatu bangsa tidak akan lepas dari kekuatan pangan suatu negara.

Kalsel Kaya Potensi Lahan Rawa Lebak
Sudah kita ketahui sejak dulu, bahwa produksi pangan di Indonesia masih sangat tergantung pada lahan-lahan pertanian di pulau Jawa. Kondisi tanah yang sangat subur dan intensifikasi pertanian yang modern membuat produksi pertanian di pulau Jawa sangat signifikan, ditambah lagi dengan infrastruktur pasca panen dan pangsa pasar yang menjanjikan.

Akan tetapi, gencarnya proses industrialisasi dan tekanan penduduk, menyebabkan penyusutan lahan pertanian yang mengancam secara langsung produksi pertanian, khususnya pertanian tanaman pangan. Bisa kita bayangkan pulau Jawa yang hanya 7 persen dari luas wilayah nasional harus menanggung beban penduduk sebesar 58 persen dari total penduduk Indonesia. Perubahan penggunaan lahan ke sektor industri dan permukiman menjadi tak terhindarkan, termasuk mencaplok lahan-lahan pertanian produktif. Disinilah arti pentingnya daerah-daerah di luar pulau Jawa untuk meningkatkan sektor pertaniannya, termasuk di Kalimantan Selatan.

Kalimantan Selatan adalah salah satu lumbung pertanian terbesar di luar pulau Jawa, selain Sumatera Selatan dan Sulawesi Selatan. Produksi padi di daerah ini mengalami peningkatan dari tahun ke tahun, yaitu 2,14 juta ton pada tahun 2015 menjadi 2,313 juta ton pada tahun 2016 kemudian meningkat lagi menjadi 2,452 juta ton pada tahun 2017. Kalimantan Selatan juga menjadi salah satu daerah yang mengalami peningkatan luas lahan pertanian, ditengah trend menyusutnya luas lahan pertanian khususnya di pulau Jawa. Luas lahan pertanian di Kalimantan Selatan tercatat 507 ribu hektar pada tahun 2014, pada tahun 2017 meningkat menjadi 587 ribu hektar. Dengan luas area rawa lebak yang hampir 25 persen dari luas wilayah Kalimantan Selatan, pencetakan lahan pertanian baru sangat memungkinkan sekali. Selama ini lahan rawa lebak dan pasang surut (swamp area) sebagian besar belum terkelola dengan baik, padahal sangat potensial untuk menunjang ketahanan pangan nasional.

Momentum HPS untuk Optimalisasi Lahan Rawa Lebak
Selain peningkatan luas lahan pertanian, juga perlu diimbangi dengan pembangunan infrastruktur penunjang seperti irigasi dan mekanisasi pertanian modern. Momentum Hari Pangan Sedunia (HPS) ke-38 tahun 2018 dilaksanakan tanggal 18-21 Oktober 2018 di Kalimantan Selatan yang dipusatkan di Desa Jejangkit Muara, Kec. Jejangkit, Kabupaten Baritokuala dan Kota Banjarbaru diharapkan menjadi pemicu percepatan pembangunan pertanian di Kalimantan Selatan. Tema besar yang diusung pada Hari Pangan Sedunia 2018 adalah Optimalisasi Pemanfaatan Lahan Rawa Lebak dan Pasang Surut menuju Indonesia Lumbung Pangan Dunia 2045. Gubernur Kalimantan Selatan, Sahbirin Noor menyatakan peringatan Hari Pangan Sedunia 2018 sejalan dengan misi dan visi Kalsel sebagai provinsi sentral pangan. Peringatan Hari Pangan Sedunia 2018 tidaklah dimaknai sebagai seremonial belaka, tetapi sebagai wujud komitmen pemerintah dalam mengoptimalkan potensi lahan rawa lebak menjadi lumbung pertanian baru menuju ketahanan pangan nasional. Kabupaten Baritokuala yang akan menjadi tempat puncak peringatan Hari Pangan Sedunia 2018 adalah sentral pertanian lahan rawa lebak terbesar di Kalimantan Selatan.

Kalsel Tuan Rumah HPS dan Rangkaian Kegiatannya
Rangkaian kegiatan Hari Pangan Sedunia akan diisi dengan kegiatan pokok pameran yang dilaksanakan di dua lokasi yaitu di halaman kantor Gubernur Kalimantan Selatan, Banjarbaru dan Desa Jejangkit Muara, Kab Barito Kuala, selain itu juga akan diisi dengan program diversifikasi pangan, yang ditandai dengan lomba cipta menu pangan lokal yang beragam, bergizi, seimbang dan aman. Kegiatan ini juga mengedukasi masyarakat untuk memperbanyak variasi makanan yang dikonsumsi dan memaksimalkan lahan yang dimiliki termasuk lahan pekarangan. Hal ini akan mengurangi ketergantungan kepada satu produk pangan tertentu, dengan mengenalkan produk-produk makanan alternatif yang tidak kalah bagusnya. Masih ada kegiatan-kegiatan lain seperti Wisata/Tour Diplomatik dan Gerakan Penanaman Pohon, Launching Ekspor Jagung dan Panen Jagung, Seminar Pengembangan Teknologi Pertanian Rawa, Pemecahan Rekor MURI ISI PIRINGKU kepada Ibuhamil, Pagelaran Seni Daerah Kalimantan Selatan, lomba buat anak sekolah dan Sajian Kuliner khas Kalimantan Selatan.

Tantangan Mewujudkan Ketahanan Pangan
Ada beberapa tantangan mewujudkan ketahanan pangan di masa mendatang yang perlu kita pikirkan dan cari solusinya sejak sekarang. Peningkatan kesejahteraan petani dirasa masih belum signifikan, mungkin hal ini yang menyebakan penyusutan profesi petani karena generasi muda jarang meminati jenis profesi pertanian. Lahan-lahan yang tak terurus ditinggalkan para pemuda berurbanisasi ke kota memunculkan persoalan beban lapangan kerja yang berat di perkotaan. Selain itu potensi ledakan penduduk atau lebih popular disebut bonus demografi pada tahun 2045, perlu direspon serius karena akan terjadi konsumsi pangan yang tinggi. Peningkatan produksi pertanian akan menjadi sangat krusial pada masa-masa yang akan datang. Perubahan iklim yang semakin dramatis dan sulit diprediksi serta hama penyakit berpotensi menggagalkan pencapaian produksi pertanian yang kita inginkan, oleh karena itu riset-riset pertanian untuk mendapatkan varietas pertanian yang unggul juga perlu digencarkan. Persoalan kestabilan harga pangan dan ketersediaan pangan dari masa ke masa, terutama pada kondisi bencana alam dan musim paceklik atau gagal panen juga perlu dijaga secara ketat dengan memberantas mafia pangan dan persaingan usaha yang tidak sehat. Sementara pada saat musim panen harga produk pertanian juga tidak jatuh karena permainan harga, sehingga merugikan petani. Penguatan peranan Bulog sebagai stabilisator harus diperkuat.

Untuk itu seluruh sektor dan komponen masyarakat harus berjalan seiring dan bergerak maju untuk menggerakkan potensi pertanian di negeri ini. Saat ini Kalimantan Selatan telah menjadi penyangga pangan terbesar di pulau Kalimantan, semoga di masa datang akan menjadi salah satu provinsi penyangga pangan nasional. Peringatan Hari Pangan Sedunia 2018 kita harapkan menjadi pencetus semangat meningkatkan pembangunan sektor pertanian di pulau Kalimantan, khususnya Kalimantan Selatan. Para penyuluh pertanian diharapkan mampu menularkan ilmu pertanian modern kepada petani serta memberi motivasi untuk terus berinovasi dan berkreasi menuju swasembada pangan. Diharapkan juga partisipasi aktif masyarakat Kalimantan Selatan untuk berhadir memeriahkan Hari Pangan Sedunia ke-38 dalam rangka mensukseskan perhelatan akbar ini.

(Sumber : banjarmasinpost.co.id )