Ini Inovasi SMKN 5 Banjarmasin, Olah Sampah Plastik Jadi BBM

INOVASI yang dilakukan guru dan siswa SMK Negeri 5 Banjarmasin, patut diacungi jempol. Saat ini, sampah plastik bisa diolah menjadi bahan bakar minyak (BBM). Jadi, tak perlu risau lagi dengan sampah yang sukar diurai, justru bisa dimanfaatkan dengan diolah melalui mesin khusus karya guru dan siswa sekolah dulu bernama Sekolah Teknologi Mesin (STM) Teluk Dalam itu.

DENGAN mesin pencacah sampah plastik dan kemudian diolah dan disuling menjadi bahan bakar minyak (BBM), problema sampah plastik yang jadi momok di Banjarmasin bisa teratasi.

Bayangkan saja, 10 kilogram sampah plastik bisa menghasilkan tujuh liter solar, dua liter bensin dan satu liter minyak tanah. Untuk menciptakan purwarupa mesin pencacah dan pengolah plastik jadi bahan energi, tak perlu mengimpor ke luar negeri.

“Bagian dari mesin pencacah dan pengolah plastik jadi BBM itu kami dapatkan di Banjarmasin. Memang, ada sebagian orderdilnya didatangkan dari Surabaya,” kata Kepala SMKN 5 Banjarmasin, Syahrir kepada jejakrekam.com, Minggu (17/2/2019).

Untuk membuat rangkaian mesin pencacah dan pengolah BBM dari bahan plastik, diakui Syahrir dibutuhkan waktu sedikitnya dua pekan. “Dua pekan untuk pembuatan dan perakitan mesin pencacah sampah, dan dua pekan lagi untuk membuat mesin pengolah sampah plastik jadi BBM,” ucap Syahrir.

Sebelum dioperasionalkan, Syahrir mengatakan kedua mesin itu sudah lulus ujicoba, hingga menghasilkan tiga jenis BBM yang berguna bagi masyarakat.

Menurut Syahrir, inspirasi pembuatan dua mesin murni dari segenap elemen di SMKN 5 Banjarmasin ketika menjawab tantangan begitu tingginya volume sampah plastik di ibukota Provinsi Kalsel.

“Ini adalah inovasi yang jenius dari para guru pembimbing dan siswa SMKN 5 Banjarmasin. Seluruh siswa dari jurusan otomotif, mesin dan elektrik dilibatkan dalam pembuatan mesin pencacah dan pengolah sampah menjadi BBM,” kata Syahrir.

Satu tim perancang dan pembuat mesin itu melibatkan sedikitnya 30 siswa dalam satu kelas dari semua jurusan yang ada di SMKN 5 Banjarmasin. Di bengkel sekolah terletak di Jalan Sutoyo S, Kelurahan Pelambuan, mesin-mesin  hasil karya anak bangsa ini dihasilkan.

“Ternyata, dari 10 kilogram sampah plastik, baik dari kresek, pembungkus sabun cuci dan lainnya bisa menghasilkan 10 liter BBM. Yakni, tujuh liter solar, dua liter bensin dan satu liter minyak tanah,” kata Syahrir.

Untuk membuktikan ‘kilang mini’ itu menghasilkan BBM berkualitas, Syahrir mengatakan sudah diujicobakan dengan mobil dan sepeda motor. Hasilnya, kedua alat transportasi ini bergerak laiknya daya dorong yang dihasilkan minyak olahan Pertamina.

Bahkan, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Kalsel pun tertarik untuk membawa dua mesin pencacah dan pengolah BBM dari sampah plastik ke kejuaraan sains antara negara di Asia Tenggara atau Asean.

“Kita patut berbangga dengan karya anak Banua. Siapa lagi, kalau tidak kita sendiri yang menghargai. Ketika mobil Esemka tenar, semoga mesin yang dihasilkan para guru dan siswa SMKN 5 Banjarmasin bisa mendunia,” papar Syahrir.

Menurut dia, rencananya Gubernur Kalsel Sahbirin Noor akan meninjau langsung bengkel pembuatan mesin pencacah sampah dan pengolah BBM berbahan sampah plastik itu.

Ketertarikan serupa juga disuarakan Walikota Ibnu Sina dengan memesan 52 mesin pencacah dan pengolah sampah plastik menjadi BBM, untuk ditempatkan di masing-masing kelurahan yang ada di Banjarmasin.

“Saat ini malah kami kewalahan untuk memenuhi pesanan pembuatan mesin pencacah dan pengolah sampah plastik jadi BBM. Kami berharap dukungan dari Pemprov Kalsel untuk mempatenkan penemuan kedua mesin ini,”  kata Syahrir.

Sayangnya, Kepala SMKN 5 Banjarmasin tak ingat persis berapa biaya pembuatan mesin mutakhir dan ramah lingkungan sebagai solusi mengatasi masalah sampah plastik yang tak bisa diurai itu.

Apalagi, sekolah berbasis vokasi ini juga tak hanya menghasilkan mesin yang mampu mengolah sampah plastik, tapi juga membuat briket dari ampas kayu dan kompor briket. Keduanya bisa dipakai warga untuk mengatasi kelangkaan gas LPG yang sering mengemuka di tengah publik.

Sumber : (jejakrekam)